Open space office (ruang
terbuka tanpa sekat) menjadi tren di
perkantoran. Pertukaran ide diharapkan lancar, tetapi bagi kaum introver,
banyaknya interupsi bisa “menyiksa”.
Siani Setiawati, head
of people development sebuah perusahaan multinasional sering mendapat complain
dari staf. Lantaran ruang terbatas, bagian HRD, akuntan, administrasi, analis,
dan sales bekerja di ruang besar tanpa sekat. Bisa dibayangkan, orang sales
terus-menerus menelepon, sementara printer dot matrix para akuntan mencetak
invoice tanpa henti. Staf lain terganggu, terlebih para analis. Situasi ini
jarang direspons karena mungkin dinilai tak terkait work performance.
Pada 1921, Carl G
Jung memopulerkan istilah ekstrover–introver. Kaum introver cenderung tenggelam
di alam pikiran dan perasaan, sementara ekstrover lebih tertarik pada orang
dan kegiatan.
